HARMONI BUMI DALAM GEMA KEHIDUPAN

Profile photo of Anwar Fachry

MENERAWANG DEKAPAN ZAMAN: HARMONI BUMI DALAM GEMA KEHIDUPAN

Oleh Anwar Fachry

Di tengah derasnya perubahan zaman dan tantangan lingkungan yang semakin nyata, panggilan untuk menjaga bumi adalah amanah dan kewajiban bersama. Bumi, dengan segala kelimpahannya, telah dihamparkan sebagai rumah yang luas untuk ditinggali dan dirawat oleh manusia dan makhluk lainnya. Melalui kisah dan refleksi ini, marilah kita bersama merenungkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam agar warisan hidup bagi generasi mendatang tetap lestari.

⁠وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَـٰهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيجٍۢ*

"Dan bumi itu Kami hamparkan dan Kami letakkan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang berpasang-pasangan."

(Surat Al-Hijr, 15:19)


Ayat ini menjadi panggilan untuk menyadari betapa bumi adalah karunia yang melimpah, yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bijak demi keberlanjutan hidup bersama.


Mendengarkan Suara Alam Bisa Bikin Hati Tenang? Ini 7 Fakta Ilmia | IDN  Times
Ilustrasi IDN-hikeandcycle.com

1. Suara Alam yang Menyelam ke Hati

Memoar ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah cermin yang memantulkan wajah bumi yang sedang terbelah dan menjerit. Jakarta, kota pusat ekonomi dan budaya, kini bergumul dengan kenyataan menggentarkan: air laut yang lebih tinggi dari daratan dan tanah menurun akibat ekstraksi air tanah berlebihan. Larangan penggunaan air tanah menjadi saksi bisu keluguan manusia yang sering lupa mendengar pelajaran alam, sebagaimana kata William Wordsworth: “Come forth into the light of things, let nature be your teacher.” Menariknya, Ibn Arabi mengingatkan: “Al-kawn miraat al-insan” — alam semesta adalah cermin manusia. Alam dan manusia saling mencerminkan, sebuah panggilan untuk bertanggung jawab.


2. Sembilan Batasan, Satu Kanvas Kehidupan

Memoar ini menautkan realita lokal dengan gambaran global berupa sembilan batasan lingkungan kritis. Air tawar yang menipis, perubahan iklim yang mengguncang, punahnya keanekaragaman hayati, hingga deforestasi bukan isu terpisah, melainkan serpihan kain bumi yang mulai terkoyak. Jalaluddin Rumi mengajak refleksi: “You were born with wings, why prefer to crawl through life?” dan juga mengingatkan agar hidup seperti peziarah dengan kalimat, “Kun fid-dunya ka’annaka gharib aw ‘ābir sabīl” — hiduplah di dunia seperti orang asing atau penziarah. Kesadaran untuk menjaga bumi harus disertai kerendahan hati dan tekad bangkit.

Revolusi di Titik Nol: Kerja Rumah ...
Ilustrasi Goodreads

3. Perjuangan di Titik Nol

Di desa terpencil Sumba Timur, air bersih menjadi pencapaian luar biasa. Ketika isu lingkungan hanyalah angka di kota besar, di sini itu berarti perjuangan nyata seorang ibu berusaha membawa harapan keluarga. Semangat Mahatma Gandhi bergema: “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.” Dilengkapi pesan Imam Ali ibn Abi Talib: “Lā talbis nafsaka illā man turīd an tafqad” — jangan menipu dirimu sendiri kecuali jika ingin kehilangan. Teguran agar manusia jujur dan bertanggung jawab menjaga alam sebagai warisan.


4. Solidaritas Universal untuk Planet

Tokoh dunia yang mengadopsi anak dari berbagai penjuru dan mengkampanyekan kesetaraan serta lingkungan menegaskan betapa dibutuhkannya solidaritas global. Masalah lingkungan tak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Pesan Imam Ali, “Lā tatlub an takūna kamā aḥad, illā an tatanāwa ‘alā taḥattuh”, mengingatkan supaya usaha menjaga lingkungan lebih dari sekedar meniru, yaitu sebagai usaha unggul dan teladan.


5. Paradoks Pangan dan Harapan Kemanusiaan

Terhampar paradoks produksi pangan yang meningkat drastis tapi kelaparan dan sampah makanan tetap menggunung. Dari Mumbai, para “Dabbawala” yang mendistribusikan makanan sisa ke yang membutuhkan menunjukkan bahwa inti keberlanjutan bukan teknologi belaka, tapi kemanusiaan dan keadilan. Sheikh Abd al-Qadir al-Jilani menuturkan, “Man zara‘ shajaratan, zara‘ amal al-amlāh” — siapa yang menanam pohon menanam amal harapan. Setiap tindakan kecil adalah investasi harapan bagi masa depan bumi.


6. Mula Perubahan dari Hal Sederhana

Memoar mengajak memulai perubahan dari langkah kecil sehari-hari — menghargai makanan sebagai ungkapan syukur, menyadari bumi adalah tanggung jawab bersama, bukan milik perseorangan. Sekretaris Jenderal PBB mengingatkan: “We are at the verge of the abyss. Leaders everywhere must take action.” Namun seruan ini bukan hanya untuk pemimpin, setiap orang memiliki peran penting. Al-Mutanabbi menguatkan dengan adagium: “Idhā ghāmarta fī sharaf marūm, falā taqna’ limā dūna an-nujūm” — beranilah meraih kemuliaan agung, jangan puas di bawah bintang.


7. Harapan dalam Pusaran Tantangan

Di tengah krisis global, perjuangan ini menyisakan harapan yang mengajak menyelaraskan pengetahuan, hati, kebijakan, dan empati. Harmoni antara manusia dan bumi menjadi kunci agar planet ini tidak menjadi korban ambisi manusia yang lupa diri. John Muir memberi panduan: “The clearest way into the Universe is through a forest wilderness.” Melestarikan alam adalah menemukan makna dan kesinambungan hidup.


8. Dekapan Hangat untuk Generasi Mendatang

Memoar ini membuka jendela dialog inklusif sekaligus menggerakkan aksi nyata. Kesadaran dan kerja bersama adalah kunci agar dekapan bumi tetap hangat dan ramah bagi generasi yang menanti. Bumi tetap satu-satunya rumah yang mampu menampung jejak langkah manusia sepanjang sejarah.

No photo description available.

9. Langkah Kecil yang Menggema

Perubahan besar bermula dari aksi sederhana dan rasa syukur yang tulus. Alam terus mengajar dan menanti, apakah manusia akan menjadi bagian dari solusi dan bukan sumber masalah? Resonansi memoar ini menyuarakan harapan dan panggilan kolektif untuk menjaga harmoni bumi demi masa depan umat manusia.

@afachry, 02.08.25


Komentar

Postingan Populer